Thu. Feb 22nd, 2024
Pemerintah Indonesia telah menetapkan target yang sangat ambisius dalam rencana transisi energinya.

Pemerintah Indonesia telah menetapkan target yang sangat ambisius dalam rencana transisi energinya. Dengan komitmen untuk menghentikan operasi pembangkit listrik tenaga batu bara (PLTU) pada tahun 2058, dua tahun lebih awal dari target nol emisi karbon. Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral, Arifin Tasrif, mengumumkan langkah-langkah ini selama acara Indonesia Energy Transition Dialogue 2023. Di mana fokus utama adalah peralihan besar-besaran ke sumber energi berkelanjutan.

Tasrif menjelaskan beberapa poin penting dalam rencana transisi ini. Dia mengungkapkan bahwa setelah tahun 2030, pemerintah tidak akan lagi mengembangkan PLTU baru. Dan semua pembangkit listrik tambahan yang dibangun setelah tanggal tersebut akan bersumber dari energi baru dan terbarukan (EBT). Pada tahun 2058, operasi PLTU akan sepenuhnya dihentikan. Untuk memenuhi kebutuhan listrik yang diperkirakan mencapai 1.942 terawatt per jam (TWh) pada tahun 2060. Indonesia berencana membangun pembangkit listrik dengan total kapasitas mencapai 700 gigawatt (GW) yang berasal dari sumber EBT.

Pada tahun 2030, penggunaan energi matahari akan diperluas secara signifikan. Dan pemanfaatan energi panas bumi juga akan dioptimalkan hingga mencapai 22 GW. Selain itu, pemerintah berencana mengkomersialisasikan energi nuklir sebagai sumber energi pada tahun 2039. Dengan meningkatkan kapasitasnya hingga lebih dari 30 GW pada tahun 2060. Rencananya juga mencakup pengembangan pembangkit listrik tenaga air (PLTA) pompa pada tahun 2025. Serta pembangunan sistem penyimpanan energi baterai berukuran besar pada tahun 2034.

Pemerintah Indonesia juga telah berkolaborasi dengan Just Energy Transition Partnership (JETP)

Untuk mempercepat proses transisi energi yang adil, terutama dalam sektor pembangkit listrik. Pemerintah menyadari bahwa masih banyak pekerjaan yang harus dilakukan dan bersedia untuk terus berkolaborasi dengan negara-negara lain guna mencapai tujuan ambisius transisi energinya.

Tasrif juga menyoroti komitmen pemerintah dalam pendanaan pengembangan sumber energi panas bumi di 20 area kerja yang berpotensi menghasilkan 6.783 megawatt listrik. Transisi menuju sumber energi yang lebih ramah lingkungan ini sejalan dengan program elektrifikasi pemerintah, yang mencakup promosi kendaraan listrik dan kompor listrik, serta pembangunan stasiun pengisian daya. Upaya ini bertujuan untuk mengurangi ketergantungan pada bahan bakar fosil yang merusak lingkungan.

Namun, tantangan-tantangan signifikan tetap ada dalam perjalanan transisi energi ini, termasuk ketersediaan teknologi yang memadai, perluasan praktik-praktik teknologis, serta infrastruktur dan sumber daya yang terbatas.

By admin

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *